Pages

Jumat, 02 Juni 2017

NICE HOMEWORK #3 - MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH


Bismillahirrohmaanirrohiim...

Pada pekan ketiga ini Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan Nice Homework Institut Ibu Profesional yang diberikan. Jika dilihat semakin lama, materi yang diberikan dan tugas yang diberikan semakin mendalam. Kita dituntut menyelami diri dan keluarga kita sendiri, menceritakan tentang aliran rasa yang kita alami dalam keluarga. Buat saya ini tidak mudah, akan tetapi saya bertekad untuk dapat menyelesaikan setiap tantangan yang diberikan. sehingga tercapai goal saya menjadi ibu profesional kebanggan keluarga. Amin...

Berikut tugas yang diberikan pada NHW #3 kali ini,

1. Membuat surat cinta untuk suami dan lihat responnya
2. Ceritakan potensi anak
3. Lihat potensi diri
4. Ceritakan kehendak Allah mengapa kita dihadirkan ditengah keluarga kita
5. Lihat lingkungan, tantangan apa saja yang ada dilingkungan

Berikut jawaban yang saya berikan dalam NHW #3

Surat Cinta Untuk Suami

Suamiku tercinta...

Sungguh tidak ada kata yang dapat aku ucapkan selain terima kasih sebesar-besarnya sudah menjadikan ku menjadi istrimu. Ya diri ini bukanlah wanita sempurna, bukan dari keluarga yang sempurna, tapi kau mau hadir meminang diriku.

Suamiku tercinta...

Aku ingat ketika kau ucapkan janji ikrarmu dihadapan ayahku dan penghulu. Begitu mantapnyanya kau ucapkan “saya terima nikah dan kawinnya...” haru dan bahagia rasanya hati ini. Mulai hari ini kau pikul semua beban ayahku, kau ambil alih beban dari orangtua ku. Kau ambil beban berat bertanggung jawab terhadap semua dosa dari akhlak dan perilakuku, bertanggung jawab menafkahiku, bertanggung jawab terhadap perilaku anak-anakmu, dan bertanggung jawab pula terhadap orangtuamu dan orangtuaku. Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Aku ingat dikala awal pernikahan kita, betapa kita harus mengalami hubungan jarak jauh. Padang-banjarnegara memisahkan kita. Tetapi betapa pengorbananmu luar biasa dengan menyempatkan pulang menemuiku sebulan sekali tanpa memikirkan betapa lelahnya dirimu dengan perjalanan yang kau tempuh. Naik pesawat, disambung kereta, disambung bis..menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. ah...aku tidak membayangkan betapa lelahnya dirimu saat itu. Perih, sedih dengan pertemuan yang sangat singkat kadang hanya semalam kita bertemu. Perih dan sedih dengan perpisahan saat melepasmu pergi lagi untuk waktu kembali yang entah kapan.
Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Ketika kukabari kehamilanku,,,aku lihat wajah antara takut, khawatir,,mungkin dirimu belum siap menerima kehamilanku dengan kondisi kita saling berjauhan, bahkan tanpa sanak keluarga didekatku..
Bukan hanya dirimu..bahkan akupun merasakan hal yang sama. Disini aku sendiri merasakan kehamilanku sendiri. Tanpa orangtua disisiku, tanpa dirimu, tanpa sanak saudara. Mual, pusing, aku rasakan sendiri. Kadang aku sering menangis sendiri..membayangkan dan berandai-andai...
Andai dirimu disini, tentu aku bisa diantar cek kesehatan rutin bersamamu..
Andai dirimu disini, tentu aku akan merasakan belaian dan elusan sayang mu dikala aku mual dan pusing
Andai dirimu disini, tentu kau akan membelikan makanan yang kumau..
ah,,,andai saja...
Hari demi hari...kehamilan semakin besar, semakin payah..tetapi dirimu selalu menyempatkan hadir sebisa mungkin disisiku...
Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Melihat latar belakangmu yang anak bungsu, aku pesimis apakah dirimu bisa peduli dan menyayangi anakmu. Setahuku dari cerita ibu mertua, bahkan hingga sebesar ini dirimu masih disuapi saat minum obat. Aku pesimis dengan kedewasaanmu membina keluarga kita. Tapi ternyata waktu membuktikan bahwa semua perasaanku salah. Ketika anakmu lahir,,aku lihat betapa sigap dan dewasanya dirimu. Betapa binar matamu memandang anakmu menunjukkan betapa engkau sangat penyayang. Dirimu tidak segan mengganti popok, menceboki, bahkan menggendong dan menenangkan anakmu dikala ia menangis.
Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Aku ingat ketika engkau memintaku untuk keluar kerja demi membesarkan anak kita. Kau katakan bahwa anak kita sangat membutuhkanku. Engkau memohon betapa aku benar-benar harus dirumah. Tahukah sayang? Sungguh sangat berat melepaskan semua ini. Apa yang kucapai hingga saat ini adalah pengorbanan yang luar biasa dari orangtuaku. Betapa keadaanku yang kurang baik diwaktu kecil membuatku dendam terhadap keadaan. Aku sangat berambisi untuk tidak kembali ke masa itu. Akan tetapi dirimu berhasil meyakinkan diriku dan orangtuaku..engkau menyiapkan masa pensiunku dengan sangat baik. Hingga aku dan orangtuaku dapat dengan ikhlas menerimaku keluar kerja.
Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Hari ini kita bersama,,setelah apa yang kita lalui selama beberapa tahun berpisah. Aku dirumah membesarkan dan membimbing anak kita, memenuhi semua kebutuhanmu dirumah. Dan dirimu mencari rezeki yang halal untuk kami. Sungguh aku sangat bahagia dengan kondisi kita saat ini.
Terima kasih sayang...

Suamiku tercinta...

Aku tahu sebagai seorang istri, diriku amat jauh dari sempurna. Aku yang masih suka egois, suka ngambek, suka baper..maafkan diriku sayang..
Aku pun tahu tidak ada manusia yang sempurna, sehingga aku tidak perlu menuntut apapun darimu, aku harus berusaha berbaik sangka padamu karena aku tahu bahwa dirimu pun terus menerus belajar memperbaiki diri dan kekurangan mu.

Sayang...

Amatlah berat tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang tua,,jangan lelah ya untuk terus belajar...kita bangun bersama peradaban terbaik dari keluarga kecil kita. Kita cetak generasi emas untuk masa depan negeri yang lebih baik. Semangat ya sayangku...

Terakhir aku berdoa pada Allah,,di surat yang aku buat di bulan ramadhan ini, semoga Allah ijabah doa ini.
Suamiku,,,semoga dirimu menjadi iman terbaikku...
Suamiku,,,semoga dirimu terus semangat belajar untuk menjadi ayah teladan terbaik anak-anakmu...
Suamiku,,,semoga Allah jadikan keluarga kita sakinah mawadah warohmah...
Suamiku,,,semoga Allah memberikan kepada kita anak keturunan penyejuk hati
Sumaiku,,, Semoga Allah limpahkan rahmat dan kasih sayangNya pada keluarga kita
Suamiku,,,semoga Allah kumpulkan dirimu, diriku, keluarga kita di syurgaNya
Amin.. Allahumma Amin...

Dengan penuh cinta, istrimu tersayang...

Surat diatas saya berikan ketika suami pulang kerja, saya meletakkannya diatas baju ganti yang sudah saya siapkan diatas kasur (kebetulan kamar kami dilt 2). saya tidak melihat responnya saat membaca surat saya. Akan tetapi begitu turun saya lihat wajahnya senyum-senyum malu sambil mencubit dagu saya dan bilang terima kasih. Malamnya ga usah saya teruskan ya,,,bikin baper,,yg jelas suami saya selalu romantis setiap hari wkwkwkwk;b

Potensi anak

Saya dianugerahi seorang anak yang sekarang usianya 5,8 tahun. Namanya Absi Mahandika Zuchri yang artinya orang yang ahli Al Qur'an, berilmu, berbudi pekerti luhur putra zulchairi dan rina. Absi dari kecil saya lihat sangat cerewet. Dia bisa dengan sangat mudah menceritakan hari-hari yang dilaluinya, dia sangat suka membaca dan dibacakan buku. Absi pun sangat suka bermain musik, dia suka bernyanyi dan suka menciptakan lagu sesuai hayalannya. Akan tetapi hati absi agak sensitif, dia mudah sekali sedih apabila ada yang mengganggu perasaanya (contoh ketika dia merasa dimarahi temannya padahal dia tidak berbuat salah), terkadang saya menilai absi terlalu lembut hatinya hingga dia tidak mau melawan atau berkata bila di zolimi aka dibully. Absi mudah bergaul, dan suka tertawa paling keras diantara temannya walaupun terkadang tertawa untuk hal yg tidak lucu (klo gitu gantian bundanya yang ketawa wkwkwk)
Dari kesehariannya saya bisa mengambil beberapa kesimpulan saat ini :
  1. Absi memiliki potensi menjadi seniman
  2. Absi memiliki potensi menjadi sastrawan karena kesukaannya dibacakan buku dan menceritakan kegiatannya dengan sangat antusias dan bersemangat


Potensi diri..

Berbicara potensi diri, saya sendiri hingga dewasa ini masih belum dapat memahami potensi diri. Tetapi yang jelas saya mengenal diri saya sebagai sosok perfeksionis yang selalu bersemangat dan serius saat mengerjakan sesuatu. Sewaktu bekerja pun saya tidak tahu apakah pekerjaan yang saya lakukan adalah yang sesuai dengan bidang saya. Tetapi saya baru menyadari belakangan bahwa saya sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan bidang perencanaan. Saya suka menyusun proposal proyek dan merencanakan proyek. Hal ini saya aplikasikan dalam kehidupan rumah tangga saya, saya membuat perencanaan keluarga, saya menyusun proyek harian anak, dan bahkan saya menyusun menu makanan dalam jangka waktu tertentu. Selain itu saya sangat suka membaca artikel-artikel psikologi anak. Saya betah berlama-lama duduk hanya untuk membaca psikologi anak. Bahkan saya berencana jika anak-anak saya sudah akil baligh (kurang lebih umur 15 tahun) saya berencana kuliah kembali dengan jurusan psikologi terapan. Semoga Allah meridhoi apa yang saya rencanakan. Amin.

Misi Allah melahirkan saya ditengah keluarga saya

Disini saya akan membagikan cerita saya, saya beri judul cerita saya dengan kata “DENDAM”. Ada apa dengan dendam?

Klo denger kata dendam yg terlintas dipikiran mah sesuatu yg jahat n negatif ga sih? Alhamdulillah kalo saya mah engga setelah baca pencerahan dr bunda elly risman dalam tulisannya yg berjudul "tega" ada sedikit pembahasan mengenai dendam positif hehe... Bicara soal dendam, saya dendam banget sama masa kecil dulu. Udah ortu orang ga punya, eh mosok punya anak baru satu2nya tega bener ditinggalin dijawa demi nyari sesuap nasi dijakarta (sesuap nasi bukan segenggam emas, lha wong buat makan aja rempong). Sebagai seorang anak perasaan hancur berkeping2*lebay dikit...tp emang beneran sedih,marah, campur aduk deh rasanya. Setiap saat berpisah sedih pake banget nangis berhari2...ya ada berhentinya juga sih..tp mau gimana lagi meratapi nasib. No body care about me. Itu yg ada dipikiran kecil saya. Setiap hari selalu bertanya2..knp orang lain bisa bareng sama ortunya tp aku enggak?no day without crying walaupun cuma nangis kecil n diam2. Keadaan ekonomi,lingkungan yg kurang baik membuat saya harus dititipkan disana sini. Mulai dari jawa, bekasi,jawa lagi...ga ada yg peduli perasaan saya (menurut pikiran kecil saya). Saat baru masuk smp saya benar2 dilepas mandiri dijawa. Sebagai seorang anak tentu saya menginginkan kasih sayang dan perhatian, sayangnya justru saya harus mandiri tanpa bimbingan. Saya belajar sendiri ,mencuci baju sendiri, kadang saya pun harus memasak untuk mbah, menyiapkan semua keperluan sendiri. Sebagai seorang anak yg baru lulus sd terkadang ada perasaan tidak terima, sedih, tidak nyaman. Sering baju yg saya cuci terlihat dekil dan kotor krn kurang bersih mencucinya. But no body care..saya benci keadaan ini. Hingga sma tidak ada yg membimbing saya untuk belajar...setelah lulus sma ortu saya tidak yakin bisa menguliahkan saya, berbekal tekad dan hutang saya bisa masuk kuliah, saya pun mencari2 beasiswa dan kerja sebagai asisten dosen. Alhamdulillah dengan ijin Allah akhirnya saya lulus dengan selamat. Ah..Seandainya ortu saya orang berpendidikan tentu saya akan diajarinya... Seandainya saya dibimbing tentu saya akan masuk perguruan tinggi favorit... Seandainya ortu saya mampu tentu saya tidak akan dititipkan... Seandainya..seandainya..dan seandainya lagi... Ah sudahlah..emang ini sudah takdir saya. Melihat kondisi ortu, saya bertekad menjadi orang yg berhasil...berkat doa ortu saya pun berhasil lulus kuliah, berhasil bekerja ditempat yg baik dan Alhamdulillah ekonomi membaik. Saya ingin membalas dendam terhadap semua kesusahan yg saya dan ortu alami. Sejak kerja orientasi hidup saya berubah..saya harus bisa membahagiakan ortu saya dengan cara banyak uang...*jiwa matrenya muncul wkwkwkwk. So...saya selalu menabung..berhemat..menabung..dan berhemat..hingga saya menikahpun tidak ingin ortu susah..saya pakai tabungan saya untuk biaya menikah seadanya. Semua membaik, keadaan berubah, ekonomi meningkat dan terlihat betapa bangganya ortu ke saya. But itu ga bertahan lama, suami saya meminta untuk saya fokus dirumah dan berhenti kerja. Mulailah kegalauan saya...ortu saya tidak terima ketika saya menyampaikan niat ini. Saya pusing harus mencari cara agar ortu ikhlas lahir batin. Oke..untuk menenangkan ortu saya harus punya penghasilan walaupun tidak bekerja. Penuh perjuangan saya dan suami merencanakan persiapan pensiun saya. Dengan ijin Allah..kami bisa membeli rumah yg kami kost2kan dan dengan ijin Allah juga saya bisa membuka usaha warung bakso ceria. Dengan ini saya bisa membuktikan jika saya masih punya penghasilan walaupun saya keluar kerja. Alhamdulillah ortu ikhlas meridhoi keinginan saya dan suami. Tidak mudah bagi saya juga sebenarnya melepas semua yg saya perjuangkan dari kecil, melepas semua dendam saya yg berorientasi pada duniawi. Seiring waktu berjalan Allah merubah hati dan niat saya serta semua dendam saya..sekarang saya memiliki dendam yg menurut saya jauh lebih baik. Dendam membesarkan anak saya dengan penuh cinta dan kasih. Jangan khawatir sayang anak bunda yg sholeh..bunda ga akan biarkan kamu merasakan apa yg bunda rasakan..saat kamu terbangun, kamu akan lihat senyum termanis bunda dengan pelukan hangat, setiap saat setiap waktu. Bunda akan bimbing km melangkahi setiap langkah kehidupanmu. Bunda akan dengarkan semua ceritamu..candamu..tawamu..sedihmu.. Bunda akan selalu disini, dekat denganmu. Semoga kelak engkau tumbuh dewasa dengan penuh cinta. Amin

Misi Allah menghadirkan keluarga kami dilingkungan tempat tinggal kami

Alhamdulillah sangat bersyukur saya berada dilingkungan saat ini, walaupun ini bukan lingkungan ideal yang saya bayangkan selama ini. Saya tinggal di sebuah gang dilingkungan padatnya jakarta. Tetapi Allah benar-benar mengirim kami dilingkungan yang sangat baik untuk daerah padat seperti jakarta, saya masih menemukan lingkungan seperti ini. Rumah saya seperti cluster di gang. Hanya 7 rumah dalam 1 pagar besar. Pagar besar pun sangat terbuka dengan lingkungan luar. MasyaAllahnya dari 7 rumah, 3 rumah punya anak lelaki yang sangat terpelajar, santun, dan baik perkataannya. Sungguh saya harus bersyukur dengan semua keadaan ini. Terbayar sudah perjuangan kami memiliki rumah sendiri dengan lingkungan baik walaupun dipusat kota (biasanya identik dengan lingkungan padat penduduk, dan tidak ramah anak). Hubungan saya dengan tetangga berlangsung sangat baik, saling bertegur sapa, saling berbagi. Akan tetapi saya tidak pernah berlama-lama diluar untuk mengobrol atau ngerumpi hehe...Saya juga merasa beruntung karena anak-anak di sekitar rumah saya dididik untuk paham agama. Terlihat di bulan ramadhan ini, mereka semua berpuasa, sholat di masjid setiap saat. Alhamdulillah anak saya pun tertular dan termotivasi kebaikannya. Sholat berjamaah di masjid, puasa, dsb. Ada 1 keluarga dalam lingkungan saya yang masih suka menerapkan kekerasan pada anaknya dan saya berteman di sosial media. Saya berharap dengan saya sering memposting hubungan orangtua dan anak serta ilmu-ilmu parenting semoga tetangga saya bisa membaca dan berubah menjadi lebih baik dalam mendidik dan menghadapi anak-anaknya. Amin...






Minggu, 28 Mei 2017

NICE HOMEWORK #2 INSTITUT IBU PROFESIONAL


NICE HOMEWORK #2 
PROGRAM MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL
"CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN"

Bismillahirrahmaanirrohim...

Dimalam ramadhan ini dengan segala keterbatasan waktu dan kerempongan emak Alhamdulillah masih bisa menyelesaikan nice homework ini, dimana ini adalah tugas kedua dipekan kedua program matrikulasi institut ibu profesional. 

Menjadi ibu profesional, siapa sih yang ga mau?
Kalo ditanyakan sama suami, mau ga sih punya istri yang profesional,,,dijamin 100% jawabannya pasti mau..;b
Tapi giliran mas suami ditanyakan coba apa yang kamu mau dari istrimu agar bisa menjadi istri dan ibu profesional?malah bingung dan bengong sendiri jawabnya. Bahkan si suami bilang "yang penting bunda bahagia dengan keadaan saat ini, keadaan saat ini sudah sangat baik koq, bunda sudah jadi istri yang baik" #eaaaa...mendadak meleleh dah hahaha..

Jika melihat kebelakang perjalanan rumah tangga kami, sebenarnya tidak sepenuhnya sempurna. Terkadang suka diliputi konflik, selalu ada keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.

Ya begitulah hidup tidak seindah ekspektasi yang kita idamkan. Meminjam istilah ustadz Salim A Fillah dalam kehidupan rumah tangga "janganlah banyak berekspektasi, justru perbanyaklah obsesi"
Kadang sebagai seorang manusia kita suka berekspektasi mendapat sosok suami/ istri ideal yang sholeh/ sholehah, mendapat anak ideal yg sholeh/sholehah, nurut, mudah diarahkan. Adakah salah dengan ekspektasi kita? Ga salah sih, tapi kita sendiri akan kecewa jika ekspektasi tidak kita dapati dalam diri anak dan pasangan kita. Alangkah indahnya jika kita ubah ekspektasi menjadi obsesi. Nah, dengan obsesi kita akan jauh lebih semangat mengupgrade diri karena ada tujuan besar yang ingin dicapai.

Punya obsesi membuat hidup lebih hidup dan semangat...
Berhubung emak punya obsesi untuk membangun peradaban yang baik dimulai dari membangun keluarga kecil kami. Maka emak pun harus membekali diri dengan target-target dan checklist yang tertulis, terukur, detail dan bisa dilaksanakan agar emak bisa menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga yang siap membangun peradaban dari rumah. 

bismillah berikut ini target / checklist kriteria ibu profesional  yang dibuat berdasarkan kriteria (SMART) : 

1. Ceklist Indikator Profesionalisme Perempuan - Sebagai Individu

NO INDIKATOR KETERANGAN TARGET PELAKSANAAN
1 Sholat tepat waktu Sesudah azan langsung sholat 5x sehari
2 Tilawah membaca Al Qur'an minimal 1 juz per hari Minimal 1 juz perhari
3 Sholat dhuha Sholat dhuha minimal 2 rakaat Minimal 4x perminggu
4 Sholat tahajud Sholat tahajud minimal 2 rakaat Minimal 4x perminggu
5 mengikuti kajian mencari info kajian rutin Minimal 1 bulan sekali
6 Baca buku baca buku parenting, psikologi dan buku islami Minimal 1 buku per bulan
7 Menulis tulisan di media fb atau blog menulis tulisan yang bermanfaat Minimal 1x perminggu
8 Membersihkan wajah dan perawatan sendiri facial dan masker minimal 1x perbulan
9 silaturahim kerumah teman/ saudara ikut arisan Minimal 2 bulan sekali
10 Baca artikel terkait psikologi membaca di blog maupun sosial media Minimal 2 artikel per hari
11 Menabung untuk kuliah S2 konsisten menyisihkan uang Minimal 300ribu per bulan


2. Ceklist Indikator Profesionalisme Perempuan - Sebagai Ibu

NO INDIKATOR KETERANGAN TARGET PELAKSANAAN
1 Memasak dan menyediakan makan sehat Makanan 4 sehat, 5 sempurna Setiap hari
2 Mengajak anak bermain Menemani dan mengikuti aktivitas bermain Setiap hari
3 Menanyakan perasaan anak Menanyakan dan berdiskusi mengenai perasaannya hari ini Setiap hari
4 Mencari dan membuat aktivitas belajar sambil bermain Mencari aktivitas yang sesuai dengan usia anak di media Setiap hari
5 Menceritakan kisah hikmah pada anak Mengambil dan menceritakan hikmah dari kejadian sehari-hari Setiap hari
6 Membacakan buku pada anak Buku akhlak, karakter, dan buku islami Setiap hari
7 Mencarikan aktivitas liburan edukatif Cari aktivitas liburan edukasi di google dsb Minimal sebulan sekali
8 Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak Membuat catatan dan evaluasi perkembangan anak Minimal sebulan sekali
9 Berusaha bersikap sabar, santun dan lemah lembut pada anak Berusaha sadar dan tetap tenang dalam menghadapi anak Setiap hari
10 Mengajarkan anak mengaji dan mengkaji Al qur'an Mengajarkan mengaji dan tadabur Setiap hari

3. Ceklist Indikator Profesionalisme Perempuan - Sebagai Istri

NO INDIKATOR KETERANGAN TARGET PELAKSANAAN
1 Memasak dan menyediakan makan sehat Makanan 4 sehat, 5 sempurna Setiap hari
2 Berdiskusi dengan suami Diskusi membahas anak, pekerjaan, keluarga dsb Setiap hari
3 Berdandan dihadapan suami Minimal menggunakan bedak dan memakai wewangian Setiap hari
4 Memotivasi suami Memotivasi untuk lebih baik dalam hal ibadah dan pekerjaan Setiap hari
5 Memijit suami Jika diminta dan jika suami terlihat lelah Setiap dibutuhkan
6 Me time bersama suami Menonton dirumah atau minimal keluar berdua Minimal seminggu sekali


Semoga saya dapat menjalankan dengan baik seluruh target yang saya buat, semoga Allah mudahkan saya dan beri saya keberkahan dan petunjuk dalam mencapai obsesi membangun peradaban dari keluarga kecil kami. Amin Allahumma Amin...

Senin, 22 Mei 2017

KOPDAR AKBAR DAN WISUDA MTRIKULASI IIP JAKARTA

KOPDAR AKBAR & WISUDA MATRIKULASI
Institut Ibu Profesional Jakarta
"Mendidik fitrah iman anak usia pra akil baligh"
By Ust. Harry santosa
Secara fitrah seorang anak suka belajar.
 # Fitrah belajar selesai jika hanya mengejar titel, agar lulus dan agar bisa kerja.
#Menurut riset hampir 80% mahasiswa tidak tahu bakatnya.
#Anak2 yg belajar agama belum tentu fitrah imannya tumbuh.
Orangtua terkadang hanya melihat Amalan luar yg terlihat saja tanpa menyentuh hati anak, tanpa menumbuhkan kecintaan anak untuk melakukan amalan.
# menyekolahkan dengan baik belum tentu mendidik dengan baik.
#Ulama sepakat anak usia 15th dianggap sudah akil baligh. Dianggap setara dengan orang tua, sudah mampu mandiri dan membiayai diri sendiri.
#anak yg fitrah belajar nya tumbuh akan cinta belajar sepanjang hidupnya.
# fitrah seksualitas, anak2 akan kehilangan fitrah seksualitas jika anak masuk boarding sejak dini.
Kenakalan adalah potensi yg belum nampak buahnya, Kenakalan adalah jerit hati anak yang belum terpenuhi keinginannya.
# jangan meniru keluarga lain. Jadilah versi pertama keluarga. Bangun keluarga dengan misi agar kita tidak hanyut ikut arus kehidupan
# kita tidak perlu sibuk memperbaiki kebakaran peradaban tapi sibukkan dengan membangun peradaban
#Di sekolah formal biasanya fitrah tidak berkembang.
#adab adalah perbuatan yg bermartabat sesuai dengan fitrahnya
#Proporsi adab dan fitrah : Dibawah 7th adab jangan dibenturkan dengan fitrah. Ajarkan bukan dengan perintah. Ajarkan adab dengan imaji2 kebaikan. Dibawah 7th anak2 sedang mencari konsep diri, egosentris (jika ego cidera akan menjadikan anak menjadi peragu, sulit mengambil keputusan)
#Fitrah keimanan, pendidikan akidah pertama selama 2 tahun pertama adalah dengan menyusuinya (ketika menyusui anak jangan sambil menyambi) golden age fitrah keimanan usia 0-7 th
#0-6 tahun mengokohkan konsepsi (cth konsep tentang Allah, keimanan, dsb), interaksikan dengan Allah disetiap kegiatannya
#7-10 tahun anak mulai kritis, logika mulai tumbuh. Anak usia ini harus dalam kesadaran untuk taat. Allah sebagai wali, hakim (pengatur segalanya). Anak2 harus memahami bahwa ada Allah dibalik semua ilmu. Menumbuhkan dan menyadarkan fitrah sebagai potensi melalui interaksi dan aktifitas di alam dan lingkungan.
#11-14 th fase ujian dan tanggung jawab pada kehidupan, zaman dan problematika sosial.
# diatas 15 tahun menyempurnakan fitrah sebagai peran peradaban.
# fitrah keimanan muncul dgn baik dengan keteladanan yg baik
# saran: usia 10 tahun diberi murabbi untuk akhlaknya dan diberi maestro untuk bakatnya
Pertanyaan :
1. Bisa kah ayah mengambil peran sbg murabbi?
Jawab bisa
2. Mengirim anak ke boarding bolehkah?
Jawab : sebaiknya setelah anak akil baligh. Peran ayah ibu tdk boleh hilang agar fitrah seksualitas tumbuh paripurna. Sebelum akil baligh sebaiknya di home Stay kan di sekitar asrama.
3. Fitrah itu samakah dgn bakat? 0-6 amati sifat unik anak (suka ngomong, suka ngatur, suka melamun, suka curigaan), buat jurnal sifat unik anak. 7-10 beri aktifitas yg relevan dengan sifatnya (ex: jadikan pimpro proyek kegiatan dirumah, jadikan seksi kebersihan dirumah).
4. Akil baligh harus bersamaan kah? Tidak harus, tetapi jangan sampai terlalu jauh perbedaan tumbuhnya
5. Bagaimana menyeimbangkan fitrah saat anak belajar disekolah formal? Petakan dan buat jurnal semua fitrahnya. Petakan bakatnya, Petakan fitrah seksualitas nya (interaksi dengan ayah dan bundanya), Petakan fitrah belajarnya dengan memberi project science dirumah, lihat seberapa besar dia menikmati pengerjaan project​ nya.
6. Bagaimana caranya agar anak 0-7 th dekat dgn ramadhan (membangkitkan gairah anak)? Dengan menghias rumah dengan atmosfer2 keshalihan, bicarakan tentang ramadhan, Semangat kan ramadhan. Bicarakan dengan pasangan untuk membangkitkan gairah anak dibulan ramadhan.
7. Bagaimana jika ayah menyerahkan sepenuhnya tugas pendidikan anak kepada ibunya? Berarti ayah kekurangan supply ayah. Berikan ayah murabbi agar mendapatkan supply ayah. Ayah yg selesai dengan dirinya pasti mau mencurahkan dirinya untuk anaknya. Atau mungkin karir nya si ayah salah jurusan. Jangan dimusuhi, tetapi didoakan agar berubah.

Rabu, 17 Mei 2017



NICE HOMEWORK #1

MATRIKULASI IIP - ADAB MENUNTUT ILMU


Di pagi yang cerah ini, setelah menyelesaikan “homework” beneran (nyapu, nyiapin sarapan, beberes rumah, sampe nganter anak sekolah hehe:b) barulah bisa bertapa mikirin nice homework nya matrikulasi IIP (Institut Ibu Profesional).

Matrikulasi IIP itu apa sih?sebelum melanjutkan membuat nice homework mungkin ada baiknya sedikit saya sampaikan mengenai program matrikulasi institut ibu profesional, karena saya menuliskan di blog, harapannya banyak ibu yang membaca tulisan ini dan tertarik untuk mengikuti perkuliahan IIP.  

Program matrikulasi Institut Ibu Profesional adalah program kuliah  koordinator kota, fasilitator  serta pengurus setiap rumah belajar di Institut Ibu Profesional agar memiliki kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang “Ibu Profesional” yang menjadi kebanggaan keluarga dan komunitas.
Materi diberikan dalam sebuah grup WhatsApp, selama 10 pekan. Ada 10 materi menarik yang disampaikan.

Peserta bisa memulai diskusi kapanpun, interaktif dengan sesama peserta. Narasumber akan hadir jam 20.00 – 21.00 WIB untuk berdiskusi langsung dengan peserta. Pada hari berikutnya, peserta akan diberikan “nice homework” yang harus dikerjakan dalam minggu itu untuk memberikan pemahaman lebih mendalam terhadap materi yang telah diberikan sebelumnya.
Kelas ini adalah kelas berbayar dengan investasi sebesar Rp 100.000,-/orang sekaligus sebagai biaya membership IIP seumur hidup dengan distribusi dana 10% untuk Sejuta Cinta Pusat, 20% kembali ke IIP Kota sebagai kas kota, dan 70% untuk IIP Pusat sebagai biaya pengembangan program. (sumber info : http://shantystory.com)

Kenapa saya perlu mengikuti kelas matrikulasi?

Sebagai seorang ibu rumah tangga murni yang tidak pernah merasakan perkuliahan menjadi “ibu profesional” tentu setelah mendengar kata intitut ibu profesional yang terbayang adalah saya akan mendapatkan ilmu menjadi ibu yang profesional, yang bisa memanage keluarga dengan baik, menjadi ibu yang memiliki pemahaman cara mendidik anak, dan mengayomi keluarga dengan baik. Dan harapan itu makin terlihat nyata akan tercapai manakala saya tergabung dengan puluhan ibu yang memiliki semangat belajar dan berbagi pengalaman dalam satu wadah “Institut Ibu Profesional”.
Dalam mengikuti program matrikulasi IIP dibutuhkan tekad dan keseriusan. Karena dalam program matrikulasi tidaklah ringan. Forum ini bukanlah forum yang setiap peserta hanya mendapat materi dan selesai. Setiap peserta dituntut untuk berkomitmen mempraktekkan ilmu yang sudah didapatkan. Syarat kelulusan pun ditentukan dari pengerjaan nice homework yang setidaknya 80% terpenuhi.
Setelah mengikuti perkuliahan sesi pertama yang berjudul “Adab menuntut ilmu”, setiap peserta mendapatkan tugas mengerjakan Nice homework. Pertanyaan-pertanyaan dalam nice homework benar-benar dibuat agar peserta menyelami diri sendiri, mendapatkan jawaban dari hati.

Kayaknya cukup prolog nya ya..hehe

sekarang waktunya mengisi nice homeworknya. Ada 4 pertanyaan yang diberikan dalam materi perkuliahahan sesi 1, diantaranya :

1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya menyesuaikan dengan tujuan dan harapan yang ingin saya capai ketika mengikuti program matrikulasi IIP. Saya memilih jurusan parenting.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?

Alasan terkuat saya adalah, saya ingin membangun peradaban yang lebih baik dimulai dari keluarga kecil saya, dimulai dari diri sendiri yang saya akan tularkan pada anak-anak saya. Sebagai orang tua, tentu kita semua menginginkan untuk dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga dan anak-anak kita. Jurusan parenting saya pilih karena belajar dari masa lalu dimana saya tidak mendapatkan didikan dari orangtua yang paham ilmu parenting. Banyak kesalahan yang saya rasakan dalam pola asuh orang tua saya. Dan saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama pada anak-anak saya. Ketidaktahuan kita dalam memahami dan bersikap pada anak justru akan menimbulkan kesalahan mendidik. Semoga dengan bergabung di IIP saya bisa sharing dengan ibu-ibu hebat diluar sana dan saya mendapatkan ilmu sehingga terus dapat mengupgrade diri menjadi ibu profesional.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?

Selama ini saya banyak bergabung dengan grup-grup parenting yang sering mengadakan sharing-sharing ilmu parenting, mengikuti seminar parenting, membaca buku-buku parenting, mem-follow pakar-pakar parenting, dan mengikuti program matrikulasi IIP.

4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Mengurangi bahkan menghilangkan sikap tinggi hati, sombong, merasa lebih tahu, suka pamer, menremehkan ilmu. Semakin menumbuhkan rasa kurang ilmu, rasa ingin membagi ilmu, dan saling membagi pengalaman, mendengarkan nasihat dan tidak meremehkan ilmu.


Yuk bunda, kita bangun peradaban yang lebih baik dengan mencetak generasi-generasi terbaik. Dan untuk memperoleh generasi terbaik tentu kita sebagai ibu, madrasah utama anak juga harus memperbaiki diri dan terus senantiasa mengupgrade diri dengan ilmu yang terbaik. Salah satunya dengan mengikuti program matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Be profesional mom for the best generation^_^